Pelangi
Indahnya pelangi karena terdiri dari bermacam-macam warna yang beda satu dengan yang lainnya.
Pelangi harus tetap ada, dan akan tetap pelangi selama warnanya masih warna-warni, jangan dipaksa untuk melebur jadi hanya satu warna saja. Itu tidak indah lagi dan jelas bukan lagi pelangi.
Ketika ada seseorang berbaju hijau, karena meyakini bahwa warna hijau-lah yang terbaik, kemudian semua orang dipaksa memakai baju hijau yang sama, maka sudah bisa dipastikan muncul pro dan kontra terhadap kebijakan diktator tersebut.
Dunia ini ibarat pelangi, harus warna-warni. Semuanya indah jika tetap bersinergi. Jangan ada dikotomi agama, warna kulit, etnis, atau apapun. Biar tetap pelangi.
Mulai saat ini, di negara yang terkecil, keluarga, mulai ada suami dan istri terapkan filsafat pelangi. Yang terpenting samakan dulu aqidah sebelum menjalin pernikahan yang sah. Kesamaan aqidah akan membawa keduanya untuk memiliki modal awal untuk bisa menerima filsafat pelangi. Suami tetap harus laki-laki dan istri tetap perempuan dengan segala kekhasannya masing-masing. Jangan paksakan masing-masing untuk berubah. Laki-laki harus maskulin dan perempuan tetap feminin. Waktu 9 bulan 10 hari, setelah nikah umumnya sebelum hadirnya anggota keluarga di negara tersebut hendaknya sudah ada pemahaman yang sama antara keduanya, yakni paham akan filsafat pelangi. Persamaannya dijadikan modal utama, terus dijaga dan dipelihara. Perbedaannya dimaklumi dan dinikmati sebagai indahnya pelangi keluarga. Tambah kepala pasti bertambah pula persoalan yang muncul menyertainya. Karena setiap manusia sudah qudratinya beda satu dengan lainnya.
Negara terkecil, keluarga yang dengan 3 warganya presidennya harus seorang bapak dari anaknya yang sekaligus juga seorang suami bagi istrinya. Ketiganya memang sudah beda dari awalnya, jangan ada rekayasa untuk menyamakannya. Presiden keluarga menerapkan penetrasi aqidah kepada calon pendatang baru yakni anaknya mulai usia 4 bulan dalam kandungan ibunya, setelah ditiupkan ruh sampai di usia baligh. Wahai anakku, sembahlah Tuhanmu dan jangan sekutukan Dia, karena syirik itu dosa terbesar. Berbaktilah kepada kedua orang tuamu, berlaku etislah kepada sesama manusia, jangan sombong, dan seterusnya. Tapi ketika sang anak sudah dewasa, bukan kalimat perintah dan larangan yang digunakan untuk mengemukakan argumentasi, tapi Laa ikrooha fiddiin (tidak ada penetrasi dalam menyampaikan ajaran agama). A ro-aita ... (bagaimana menurut pendapatmu) itu lebih memanusiakan manusia. Ibarat pelangi di sebuah negara keluarga dengan warga negara berupa 3 partai yang berkoalisi di dalamnya. Nampak indah dalam pandangan mata yang sehat melihat perbedaan warna pelanginya. Namun, apa hendak di kata, presiden keluarga dengan otoritasnya mengeluarkan dekrit :"jika A mesti benar dan B pasti salah", belum tentu 2 warga negara yang lain sependapat. Dekrit presiden seperti itu adalah awal sebuah aktifitas diktator yang akan menuai pro dan kontra dari 2 warga yang lain. Jaga warna pelangi agar tetap berbeda tapi bersinergi.
Pelangi itu akan tetap indah jika warna yang berbeda itu bisa saling menerima perbedaan dalam kebersamaan.
Andaikan, partai istri dalam negara keluarga itu tetap menyadari keberadaannya dan partai anak juga menghormati perbedaan dengan 2 partai lainnya, niscaya keluarga pelangi itu sedap dipandang mata. Andai Partai ayah yang sekaligus presiden keluarga tidak pernah mengintimidasi partai istri dan partai anak dalam menyikapi perbedaan aqidah masing-masing, apalagi sikap dan aktifitas yang pasti beda maka bisa dipastikan prinsip "Jika A pasti benar dan B pasti salah" paling tidak hanya dalam pikiran saja. Waw . . . indahnya pelangi keluarga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar