Sabtu, 28 Maret 2020

Aku adalah Anak Ayahku

Aku adalah Anak Ayahku.
Di mataku ayahku adalah sosok manusia mulia yang selamanya akan kujunjung tinggi, kuhormati, kudoakan dan kumintakan ampunan atas kekhilafannya hingga kelak Allah menempatkan di jannah beserta ibunda. Ayah memiliki sifat polos dan jujur, apa adanya. Misalnya saat beliau menjawab keinginanku untuk masuk pesantren beliau berkata :"Bapakmu seneng banget krungu yen sira karep mondok. Tak dungakke tapi lahire bapakmu ora bisa ngragati" (Ayahmu senang sekali mendengar bahwa kamu akan masuk pesantren. Kudoakan, tapi kenyataannya ayah tidak mampu menanggung beayanya.). Mendengar jawaban ayah yang begitu polos dan jujur itu aku tidak patah semangat, tapi rasa syukur bahwa aku terlahir dari seorang ayah yang benar-benar menerapkan "Allohus Shomad" bahkan aku merasa termotivasi untuk tetap ke pesantren berbekal doa ayah dan semuanya kupasrahkan kepada Allah. Akhirnya dengan restu ayah masuklah aku ke sebuah pondok pesantren di kotaku. Berkat doa ayah, aku mendapat kepercayaan menulis karya-karya Kiyahi di pesantren dimana aku mondok, yang dengan menulis tersebut aku diberinya upah yang lumayan. Saat itu belum musim komputer apalagi karya Kiyahi harus kutulis dengan kaligrafi, maka tulisan tanganku sangat berharga bagiku karena beliau meski seorang guru/Kiyahi yang sekedar menyuruh santrinya tapi juga  memberiku upah secara profesional hingga dapat menopang semua kebutuhan hidupku selama mondok di pesantren, untuk beli kitab, alat tulis dan lain-lain. Bukan hanya itu, oleh Kiyahiku aku mendapat kepercayaan menjadi katib dan sebagai guru di madrasahnya. Itu semua berkat doa ayah tercinta, idolaku. 
Sifat setiap figur "ayah" pada umumnya lebih bicara gengsi ketika menghadapi tuntutan anak harus sekolah, meski sebenarnya tidak mampu tapi karena gengsi sang ayah tetap menyekolahkan anaknya walau dengan hutang. Bahkan sampai selesai sekolah masih hutang uang sekolah, kredit kendaraan dan uang nebus ijazah, demi gengsi semata. Alhamdu lillah ayahku punya prinsip beda, hingga aku tumbuh menjadi manusia yang entah berapa prosen seperti ayahku.
Kini aku adalah bagian dari masyarakat, aku bagian dari sebuah keluarga ya keluarga ayah dan ibu, tapi aku kepala ya kepala keluarga kecilku, aku memimpin istri dan anakku. Ketika aku butuh sesuatu, aku berusaha meniru ayahku, qonaah dan tetap berusaha seraya terus berdoa kepada Allah tanpa mencari solusi yang instan atau hutang. Prinsip hidupku yang seperti ayahku ini membuat banyak orang keliru menilaiku. Mereka menilaiku orang yang serba berkecukupan, akhirnya selalu saja ada yang minta agar aku meminjami uang dalam jumlah besar. 
Terus aku harus menjawab bagaimana? Posisiku serba salah, jelas tidak mungkin aku mengiyakan karena memang tidak ada uang sebesar yang diminta. Sedang untuk menjawab "tidak bisa" mutlak orang tidak percaya karena dimata mereka aku tak nampak punya hutang dan tak ngeluh. Resikonya aku dibenci mereka yang pernah kecewa oleh sikapku yang seperti ini. Maafkanlah sikapku telah membuat "husnud dhon" Anda kepadaku menuai kekecewaan berat Anda.
Tapi ada juga manusia yang selalu menilaiku "negatif", di mata mereka tak ada kebaikan sama sekali pada diriku, mungkin karena memang benar tak ada atau mata mereka sengaja mereka butakan sendiri. Meski diri ini sering merasa terdholimi, tapi aku yaqin "Maliki yaumiddiin" artinya semua hakku sebagai Anak Adam yang mereka rampas di dunia ini akan diadili seadil-adilnya oleh Sang Malik di hari Addien (pembalasan).


المريد ستة

المريد لحرث الآخرة السالك لطريقها لا يخلو عن ستة أحوال :
إما عابد, وإما عالم, وإما متعلم, وإما وال, وإما محترف, وإما موحد مستغرق بالواحد الصمد.
١) فالعابد هو المتجرد للعبادة ... فالأنسب له أن يستغرق أكثر أوقاته فى العبادة ومجالس الذكر. قال صلى الله عليه وسلم إذا مررتم برياض الجنة فارتعوا,فقيل يا رسول الله وما رياض الجنة?  قال حلق الذكر (أخرجه الترمذى)
٢) والعالم هو الذى ينتفع الناس بعلمه فى فتوى أو تدريس أو تصنيف.
فإن أمكنه إستغراق الأوقات فى ذلك فهو أفضل ما يشتغل به بعد المكتوبات ورواتبها إذا قصد بالتعليم الإستعانة به على السلوك.
٣) والمتعلم هو القاصد بالتعلم وجه الله تعالى. فاشتغاله بالتعلم أفضل من اشتغاله بالأذكار والنوافل المطلقة. قال عطاء بن أبى رباح رضي الله عنه حضور مجلس العلم يكفر سبعين مجلسا من مجالس اللغو واللعب.
٤) والمحترف الذى يحتاج للكسب لعياله ليس له أن يضيع العيال ويستغرق الأوقات فى العبادة بل ورده فى وقت الصناعة حضور السوق والإشتغال بالكسب, ولكن ينبغى أن لا ينسي ذكر الله فى صناعته بقلبه بل يواظب على التسبيحات والأذكار وقراءة القرآن.
٥) والوالى مثل الإمام والقاضى وكل متول مصالح المسلمين قيامه بحاجات المسلمين وأغراضهم على وفق الشرع وقصد الإخلاص أفضل من اشتغاله بالأوراد.
فحقه أن يشتغل بحقوق الناس نهارا ويقتصر على المكتوبات ورواتبها ويقيم الأوراد ليلا.
٦) والموحد المستغرق بالواحد الصمد الذى أصبح وهمومه هم واحد فلا يحب إلا لله ولا يخاف إلا منه ولا يتوقع الرزق من غيره.
وهذه منتهى درجة الصديقين ولا وصول اليها إلا بعد ترتيب الأوراد والمواظبة عليها.
كتاب تنوير القلوب ٤٠١ -٤٠٣ للشيخ محمد أمين الكردى الإربلى الشافعى مذهبا النقشبندى مشربا المتوفى ليلة الأحد ١٢ ربيع الأول ١٣٣٢

Awal Hilal 1441

1 Jumadal Akhirah 1441 H = Ahad Legi 26 Januari 2020 M.
Ijtima' = Sabtu Kliwon 25 Jan 2020 jam 04.44 WIB

1 Rajab 1441 H = Selasa Legi 25 Pebruari 2020 M.
Ijtima' = Ahad Wage 23 Pebr 2020 jam 22.33 WIB.

1 Sya'ban 1441 H = Kamis Legi 26 Maret 2020 M.
Ijtima' = Selasa Wage 24 Maret 2020 jam 16.29 WIB.

1 Ramadlan 1441 H = Jum'at Kliwon 24 April 2020 M.
Ijtima' = Kamis Wage 23 April 2020 jam 09.27 WIB.

1 Syawal 1441 H = Ahad Kliwon 24 Mei 2020 M.
Ijtima' Sabtu Wage 23 Mei 2020 jam 00.39 WIB
27 Mei 2020 M = Hari Menepatkan/Kalibrasi arah Kiblat serentak I
( يوم رصد القبلة-١ jam  16.18 WIB

1 Dzul Qo'dah 1441 H = Selasa Kliwon 23 Juni 2020 M.
Ijtima' Ahad Pon 21 Juni 2020 jam 13.42 WIB
Gerhana Matahari Parsial Ahad Pon 21 Juni 2020 M / 29 Syawwal 1441 H jam 15.07 - 15.34 WIB

1 Dzul Hijjah 1441 H = Rabu  Wage 22 Juli 2020 M
Ijtima' Selasa Pon 21 Juli 2020 jam 00:33 WIB
15 Juli 2020 Hari Kalibrasi arah Kiblat serentak II jam 16.27 WIB

Hari Raya Idul Adha = 10 Dzul  Hijjah 1441 H =

1 Muharram 1442 H Kamis Pon 20 Agustus 2020 M
Ijtima' Rabu Paing 19 Agustus 2020 jam 09.42 WIB

1 Shafar 1442 H Sabtu Pon 19 September 2020 M
Ijtima' Kamis Legi 17 September 2020 jam 18.01 WIB

1 Rabi'ul Awal 1442 H Ahad Paing 18 Oktober 2020M
Ijtima' Sabtu Legi 17 Oktober 2020 jam 02.32 WIB

1 Rabi'ul Akhir 1442 H Senin Legi 16 Nopember 2020 M
Ijtima' Ahad Kliwon 15 Nopember 2020 jam 12.08 WIB

1 Jum Ula 1442 H Rabu Legi 16 Desember 2020 M
Ijtima' Senin Wage 14 Desember 2020 jam 23.08 WIB