Kamis, 03 Mei 2012

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

Melestarikan budaya/metodologi/sesuatu yang kuno tetapi masih relevan dan mengambil sesuatu/metodologi /terobosan baru/langkah inovatif. Itulah semboyan yang selalu disampaikan oleh muballigh ahlussunnah wal jama'ah , terus terang penulis belum mengetahui secara pasti asal muasal kalimat tersebut, apakah hadits/atsar/qaul atau pepatah arab saja. Tetapi penulis suka dan logik, sesuai dengan permintaan kaum muslimin " ihdinash shirathal mustaqim" yang selalu dihubungkan dengan "shirathalladzina an'amta 'alaihim", karena dengan "shirathalladzina an'amta 'alaihim" tersebut jelas terkandung maksud "li muhafadhatil qodimish-shalih".
Dulu, pedagang-pedagang dari Gujarat sambil mengenalkan huruf Al-Qur'an melalui metode "Baghdadiyah" atau alif-alifan dan kadang disebut "turutan", yang dalam waktu bersamaan murid dikenalkan huruf ( alif-ba'-ta', dst ), tanda harakat ( fathah/ jabar, kasrah/ jer, dlummah/dlummah dan sukun/pes ) sekaligus cara membacanya. Itulah metode Baghdadiyah.
Mulai tahun 1980-an bermunculan metode-metode baru untuk mengenalkan huruf Al-Qur'an seperti Qira'ati oleh Ustadz Dahlan Salim Semarang, Al-Banjari,Al-Barqi,Iqro', An-Nur, dls.
Dua puluh tahun kemudian, tahun 2000-an banyak langkah-langkah inovatif terhadap metodologi pembelajaran Ilmu Baca Tulis Al-Qur'an, secara visual Al-Qur'an ditulis dengan tinta berwarna yang kemudian diberi titel "Al-Qur'an Tajwid". Dari kalangan pesantren salafiyah Gus Ulin-Nuha Al-Hamilul-Qur'an menulis metode Yanbu'a, penulis menyambut gembira, dan inilah "Al Akhdu bil Jadidil Ashlah".
Wahai Generasi Muda Muslim, istabiqul khairat ! siapa yang akan membuktikan kemampuan berinovasi dalam hal metodologi BTA ini. Kita manfaatkan media .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar