Selasa, 12 Mei 2020

QS 6:108

كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمۡ 

Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka.
(Al-An'am,108)
Dalam menyerap pemahaman penggalan ayat diatas saya berpendapat adanya perbedaan pekerjaan ('amal dalam bahasa Arab), entah 'amal baik ataupun buruk memang oleh Allah sudah didesain setiap pelakunya pasti menganggap baik amalnya sendiri. Saya tidak perlu membuat contoh yang banyak, cukup dua atau tiga saja. 
Contoh pertama : ini agak riskan karena menyangkut aqidah, tapi sebenarnya penggalan ayat diatas ada kaitannya dengan pokok permasalahan yang terdapat pada penggalan ayat sebelumnya, meski menyangkut aqidah dan pasti hitam-putih atau haq lawan kebatilan, baik-buruk namun Tuhan tetap melarang kelompok tauhid menjelek-jelekkan kelompok atheis maka harapan penulis tamsil ini semoga bisa memberikan pencerahan untuk semuanya. Perbedaan antara orang Mu'min, Kafir dan Munafiq yang masing-masing menganggap 'amal mereka paling benar, tetap dilarang untuk saling membeberkan ketidak benaran lainnya.
Contoh kedua : Dulu di Indonesia, zaman Orde Baru kebhinekaan berhasil diminimalisir oleh penguasa orde baru. Golkar, PPP, dan PDI. Kebhinekaan bisa digeneralisir menjadi minimalis di zaman orba, tapi di orde sekarang multi partai dan masing-masing menganggap paling benar sehingga ketika berkampanye dengan lantangnya mereka membanggakan visi, misi partainya sendiri-sendiri.
Contoh ketiga : dunia dihebohkan dengan munculnya istilah "Covid-19". Saya (penulis) berasumsi sekarang ini setidaknya ada tiga lebih kelompok yang beda dalam menanggapi covid-19 tsb. Pertama yang meyakini bahwa covid-19 adalah sejenis virus corona bla bla bla sehingga harus cuci tangan pakai sabun, jaga jarak, pakai masker, bahkan pakai APD, dst. Kelompok ini mayoritas, karena ada benang merah dari PBB ke setiap negara dari setiap kepala negara sampai gubernur, bupati, camat, kepala desa sampai kepala lingkungan. Kelompok penguasa dan mayoritas ini menunjukkan kekuasaannya dengan menerbitkan kebijakan, himbauan dan sejenisnya, isinya : haram safar antar kampung, jalan ditutup, karpet masjid supaya digulung, tanpa masker kena denda, dst.
Kelompok mayoritas ini sangat antipati terhadap kelompok kedua, dan berani menegur orang yang tidak mematuhi protokol kesehatan, ke luar rumah tanpa masker, menerobos portal seenaknya. Bukan di dunia lain, tapi di dunia nyata ini ada komunitas sakti yang penguasa garda depan tidak berani berbuat apa-apa terhadap jenis komunitas yang benar-benar sakti sebab sesungguhnya komunitas ini tidak percaya sama sekali terhadap  covid-19, komunitas yang hanya takut kepada Tuhan. Orang-orang sakti tsb. sama sekali tidak menghiraukan protokol tetek bengek, mereka tetap beraktivitas seperti hari-hari normal tanpa corona, mereka berjumlah banyak, tetap berkerumun bukan hanya lebih dari 5 orang, tapi ratusan, tanpa jaga jarak, tanpa gulung karpet, tanpa desinfektan, dan kenyataannya mereka nampak tetap sehat sampai 2 X 14 hari lebih tetap aman-aman dan tidak mengenal positif negatifnya covid-19 karena mereka tidak mengikuti tes rapid. Penguasa silau terhadap kharisma pemimpin komunitas sakti tsb lalu barangkali pura-pura tidak tahu, akhirnya juga tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka diam, tidak berkoar-koar disamping ini negara hukum, tidak ada payung hukumnya untuk menghakimi para pendekar sakti yang memang sakti, la wong kenyataan mereka sehat-sehat saja.
Disamping itu ada kelompok yang berani berkoar-koar mengatakan bahwa covid-19 adalah sebuah konspirasi tingkat tinggi, bisa jadi yang seperti ini akan diburu dan dipenjarakan karena terang-terangan melawan penguasa. Kelompok ini secara diam-diam mendapat simpati dari fansnya. Keragaman menanggapi covid-19 ada lagi kelompok lucu, mereka sebenarnya tidak percaya terhadap bahayanya virus ini,  mereka berkerumun lebih dari 5 orang tanpa jaga jarak tanpa masker, menggertak setiap orang yang akan melewat di portal dengan kasar, tapi mereka  menamakan diri pahlawan garda depan dengan banner balik jangan menebar virus ke gang ini. Lucu dan lebih lucu lagi, mungkin penulis masuk kategori paling lucu, semua protokol kesehatan ditaati, tidak beraktifitas total diluar rumah, bahkan sebagai Muslim yang dibilang taat saat corona belum tiba kini tidak nampak berjamaah 5 waktu,   pengajian diluar rumah libur total sampai kapan aku belum tahu, tapi dalam aqidah tetap meyaqini "La 'adwa wa la thiyarota" . Lucu, tapi jujur itu adalah aku. 
Tapi masing-masing bangga dengan pendapat mereka sendiri, itulah sekelumit pemikiran saya mengenai firman Allah SWT :
كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمۡ 

Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka.
(Al-An'am,108)
والله اعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar