Jumat, 09 Agustus 2013

Maaf memaafkan di Ied Fithri ternyata penting

Jika dibilang tradisi , saling maaf memaafkan di Iedul Fithri seperti yang kita ketahui di Indonesia memang benar adanya. Akan tetapi pengadilan akherat nanti sangat ditentukan oleh kearifan seseorang terhadap orang lain. Artinya tanpa mendapatkan ampunan dari orang lain yang kita dholimi, meski pahala ibadah kita sebaik apapun , bisa jadi bangkrut dan kecemplung neraka.
Sabda Nabi SAW :

اتدرون ما المفلس ؟ قالوا : المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع. فقال : ان المفلس من امتي يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة ويأتي قد شتم هذا وقذف هذا واكل مال هذا وسفك دم هذا وضرب هذا فيعطي هذا من حسناته وهذا من حسنا ته فان فنيت حسناته قبل ان يقضي ما عليه اخذ من خطاياهم فطرحت عليه ثم طرح في النار - رواه مسلم

'Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu ?" ( sabda Nabi) . Para shahabat menjawab :"Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya dirham dan harta benda". Maka Nabi SAW bersabda :"Sesungguhnya orang yang bangkrut adalah sebagian dari umatku, yakni orang yang pada hari kiamat nanti membawa pahala shalat, puasa dan zakatnya, akan tetapi (ketika di dunia) ia mengumpat orang ini, menuduh zina orang ini, makan harta orang ini, meneteskan darah orang ini, dan memukuli orang ini. Kemudian (di akherat) pahala kebaikan ibadahnya diberikan kepada orang ini lalu orang ini, maka jikalau telah habis semua pahala kebaikan ibadahnya padahal pengadilan untuknya belum selesai maka dosa dan kesalahan mereka ( yang didholimi) dimasukkan dalam buku catatan amalnya, lalu ia dicemplungkan ke dalam api neraka" Muslim 2581

Ringkasan khutbah Jum'ah di Masjid Nurul husna tanggal 2 Syawal 1434 H, setelah membacakan QS Al-Baqarah 143, supaya kita tetap bersikap tawassuth (di tengah-tengah ), tawazun (QS Al-Hadid 25) dan adil ( QS Al-Maidah 9).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar